Artikel Anda

MAWALI (Ahli Waris Pengganti)

MAWALI (Ahli Waris Pengganti)

(Tulisan Ini Dibuat Dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun Peradilan Agama yang ke 130 di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama Medan)

Oleh

SYAFRUL, S.HI., M.Sy

HAKIM PENGADILAN AGAMA KISARAN

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


ABSTRAK

Ahli waris pengganti merupakan sebuah ijtihad yang dilakukan oleh Hazairin untuk mengatasi permasalahan orang-orang yang seharusnya menjadi ahli waris namun terhijab oleh saudara pewaris sehingga mereka hidup dalam keadaan sengsara dan keprihatinan, di saming itu mereka tidak mendapatkan perhatian dari para ahli waris yang mendapatkan warisan. Dalam khazanah pemikiran kewarisan Islam, tidak dikenal dengan istilah ahli waris pengganti dan untuk mengatasi permasalahan di atas diselesaikan dengan sistem wasiat wajibah.

Wasiat wajibah ternyata memiliki dasar-dasar yang kuat dalam menyelesaikan masalah di atas dan tidak mengabaikan penegakan keadilan.

Kata kunci : ahli waris, ahli waris pengganti, wasiat wajibah, dan keadilan.

 

I. Pendahuluan

Mengkaji tentang mawali (ahli waris pengganti), tentu tidak terlepas dari orang yang pertama kali mengeluarkan pemikiran tentang mawali (ahli waris pengganti) tersebut, yaitu Hazairin. Hazairin memiliki pemikiran yang komplit tentang kewarisan Islam, dimana pemikirannya banyak berbeda dengan pemikiran-pemikiran kewarisan dari ulama-ulama terdahulu, salah satu pemikiran Hazairin adalah tentang mawali atau yang lebih popular sekarang ini dengan istilah ahli waris pengganti;

Hazairin menyebutkan bahwa pendapatnya yang tertulis dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut al-Qur’an dan Hadis” merupakan sebuah ijtihad[1].

Maksud Hazairin mengeluarkan ijtihad ini khususnya tentang mawali (ahli waris pengganti) untuk memenuhi rasa keadilan dalam sistem kewarisan, dikarenakan cucu-cucu yang bapaknya lebih dahulu meninggal dunia dari pewaris akan terhijab oleh saudara bapaknya, sehingga menyebabkan mereka hidup terlantar dan miskin.



[1]   Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Quran dan Hadith, (Jakarta: Tintamas, cet.VI, 1982),h. 1.

Baca Selengkapnya

  • 962-duk-abd-haris.jpg
  • 963-duk-rakimah.jpg
  • 964-duk-faidullah.jpg
  • 965-sel-khalik.jpg
  • 966-salamiah.jpg
  • 967-sel-alimud.jpg
  • 968-duk-andry.jpg
  • 969-sel-shalah.jpg
  • 970-sel-razali.jpg
  • 971-sel-bakti.jpg