
Bertempat di Aula Lantai III Pengadilan Tinggi Agama Medan pada hari Senin tanggal 10 Juli 2023, dilaksanakan Kegiatan Pembinaan mental. Jadwal pembinaan mental pada hari ini penceramah adalah Drs. H. Syofyan Sauri, S.H., M.H. (Panitera Pengganti Pengadilan Tinggi Agama Medan), yang bertemakan “4 Tipe Anak Menurut Al-Qur'an.”, dihadiri oleh seluruh aparatur Pengadilan Tinggi Agama Medan dengan pembawa acara Drs. Ali Mukti Daulay (Panitera Pengganti Pengadilan Tinggi Agama Medan).

Dalam Ceramahnya Bapak adalah Drs. H. Syofyan Sauri, S.H., M.H. menyampaikan bahwa, tentang kisah yang sangat mengharukan tentang Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Terlepas dari peristiwa Qurban yang diterima oleh Ismail, peristiwa tersebut bisa menjadi bukti bahwa Nabi Ibrahim As berhasil mendidik buah hatinya menjadi anak yang soleh. Tentu ada hal baik yang diterapkan dan diajarkannya kepada sang anak. Yang pertama tentu adalah Doa. Semasa sang istri sedang mengandung, Ibrahim sudah sering berdoa untuk dikaruniai anak yang shaleh. Seperti yang ada dalam QS. As-Saffat Ayat 100, Dia berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk golongan orang yang saleh dan taat menjalankan perintah-Mu dan membela agama-Mu.” Beliau lebih mengutamakan keshalehan daripada yang lainnya. Hal utama sudah terbukti dengan bagaimana cara Nabi Ibrahim memilih istrinya. Sebagaimana diketahui, Ismail lahir dari buah pernikahan Ibrahim dengan Siti Hajar, seorang budak. Walaupun demikian seorang budak, yang juga tak cantik apalagi kaya, tapi Siti Hajar adalah hamba yang beriman, berhati mulia, dan berakhlak terpuji. “Memilih istri yang salehah merupakan prasyarat untuk melahirkan anak yang saleh. Sebab, istri akan menjadi madrasah pertama (al-ummu madrasah) bagi anak-anaknya,”. Dengan senantiasa berdoa, ini juga akan menjadi kebiasaan sang anak, sekiranya mereka juga akan paham bahwa mendidik anak tidak bisa dengan usaha belaka, tetapi juga butuh kepasrahan jiwa memohon pertolongan Allah SWT. Selanjutnya, pastikan kita sebagai orangtua menjadi teladan bagi anak kita sendiri. Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa kunci utama keberhasilan Nabi Ibrahim dalam mendidik anaknya adalah dengan metode keteladanan. Hal ini juga ada dalam Al-Quran terdapat dua ayat yang menjelaskan bahwa Ibrahim adalah uswatun hasanah (QS al-Mumtahanah [60]: 4 dan 6) bagi umatnya, dan juga termasuk bagi anak-anaknya. Dalam dunia psikologi juga membuktikan bahwasanya sang anak cenderung pasti akan menirukan apa yang dilakukan orangtuanya. Ini adalah sifat alamiah yaitu imititatif selama proses perkembangannya. Jadi sebaiknya kita juga memberikan cerminan soal keimanan, ketaatan beribadah, sikap, maupun perilaku sehari-hari. Mudahan-mudahan kita dapat mencotoh dari Nabi Ibrahim dalam mendidik anaknya sehingga anaknya menjadi Taqwa kepada Allah SWT.

Demikian Acara Pembinaan Mental ini dilaksanakan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.(Jas)