Keutamaan Dalam Mengakhiri Ramadhan dan Menyambut Syawal
Oleh : Zulkifli Yus

Ibadah puasa merupakan suatu ibadah yang mempunyai makna tersendiri bagi kaum muslimin, khususnya bagi orang-orang yang beriman, karena pada bulan yang penuh barakah tersebut orang-orang beriman mempunyai kesempatan untuk melaksanakan ibadah secara lebih daripada bulan-bulan yang lain, seperti shalat tarawih dan witir, tadarus Al-Qur’an menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, serta ibadah sadaqah bagi kaum fakir dan miskin. Selain itu pada bulan Ramadhan tersebut pahalanya juga dilipat gandakan oleh Allah SWTdibandingkan dengan pada bulan-bulan yang lain.

Syiar agama pada bulan Ramadhan terlihat lebih semarak, pada bulan Ramadhan Mesjid dan Mushalla dipenuhi dengan kaum muslimin yang beribadah, baik shalat wajib, shalat sunnah, i’ktikaf dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Pada akhir bulan Ramadhan kaum muslimin mulai disibukkan dengan persiapan menyambut hari kemenangan yakni hari raya Idul Fithri. Persiapan tersebut mulai dari menyediakan berbagai macam pakaian dan makanan, juga memperindah rumah sehingga nampak keindahan yang asri dan tertata. Juga banyak dari kaum muslimin yang beramai-ramai mudik ke kampung halamannya untuk berhari raya atau berIdul Fithri bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Ini semua merupakan perwujudan dari rasa syukur dan kegembiraan kaum muslimin setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan memperoleh kemenangan dan memperoleh prediket sebagai orang muttaqien.

Menghadapi akhir bulan Ramadhan dan menyambut hari Idul Fitri, Allah SWT berfirman :


وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur(QS Al Baqarah: 185).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah SWT menghendaki agar yang utama sekali ketika kita berada diakhir bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal, perlu memperhatikan kesempurnaan ibadah puasa kita, agar tetap selama satu bulan penuh. Tentunya harus dijaga dari awal Ramadhan sampai dengan akhir Ramadhan agar puasa Ramadhan kita utuh dan penuh tanpa ada bolongnya, bagi orang-orang yang sakit, atau dalam perjalanan (musafir), ada keringanan untuk tidak berpuasa dengan mengantikannya pada hari yang lain.

Orang-orang yang berpuasa akan mengharapkan keredhaan dari Allah SWT atas segala amal kebajikan yang diperbuatnya, dan dia meyakini bahwa Allah akan menerima amal dari orang-orang yang bertaqwa, karena hanya orang yang bertaqwa sajalah yang mampu memberikan atau beramal semata-mata karena Allah, bukan karena mengharapkan pujian orang atau keuntungan secara materil, hal ini sebagaiamana Firman Allah SWT :

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.(Q.S Al Maidah :27)

Mereka akan selalu berusaha untuk menjadi orang yang beruntung dengan mensucikan dirinya, berzikir kepada Allah dan juga pada saat hari Idul Fithri menunaikan shalat (shalat Ied) sebagaimana Firman Allah SWT :

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat. (QS. Al A’la : 14 - 15)

Dengan demikian pada saat kita mengakhiri bulan ramadhan maka kita perlu menjaga dan mengamalkan ayat 105 dari Surat Al-Baqarah tersebut yakni:

  1. Mencukupkan bilangan puasa Ramadhan tersebut selama satu bulan penuh, dengan menjaga puasa kita sejak awal Ramdhan sampai akhir Ramadhan dari hal-hal yang membatalkan atau mengurangi kesempurnaan ibadah puasa kita.
  2. Mengagungkan Allah atas petunjuknya yang diberikan kepada kita dengan mensyiarkan keagungan Asma Allah dengan bertakbir, bertahlil dan bertahmid memuni Allah dengan segala kebesaran dan keagungannya pada malam Idul Fitri tersebut.
  3. Menjadi orang bersyukur karena telah mendapat hidayah dari Allah SWT. Orang yang bersyukur adalah orang yang memahami betapa besarnya rahmat Allah yang telah diberikan kepadanya.

Makna mensyukuri pada ayat tersebut adalah:
1. Bersyukur karena telah dipertemukan dengan Ramadhan oleh Allah SWT.
Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah suatu kenikmatan besar bagi orang-orang yang beriman, karena ibadah puasa Ramadhan diberikan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah : 183 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
Mendapat peringkat taqwa adalah memperoleh penghargaan yang paling tinggi di sisi Allah SWT, karena orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa kepada Allah sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Al Hujarat ayat 13 :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Dengan demikian orang yang bertaqwa akan menyadari bahwa dirinya merupakan orang yang dimuliakan oleh Allah SWT, tentunya tidak akan mengingkari segala perintah Allah SWT dan akan selalu menjauhi larangan Allah SWT baik secara sembunyi ataupun secara terang-terangan. Hal ini bisa diibaratkan dalam kehidupan dunia, jika seorang sangat dimuliakan oleh masyarakat, atau oleh rajanya atau pemimpinnya tentu dia tidak akan mau mengecewakan orang yang memuliakannya atau menghormatinya itu, biar bagaimanapun keadaannya.

2. Bersyukur karena telah dapat menikmati kegembiraan ketika berbuka puasa.
Berbuka puasa merupakan suatu kenikmatan dan kegembiraan yang luar biasa bagi orang berpuasa karena mengharapkan ridha Allah SWT, apalagi ketika kita berbuka pada saat melihat hilal bulan Syawal, terasa sangat gembira karena telah keluar sebagai pemenang dalam perang besar yakni perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Apalagi kegembiraan yang akan diperoleh oleh orang yang berpuasa pada hari akhirat kelak yakni dapat bertemu dengan Allah SWT.

3. Bersyukur karena telah mendapat kesempatan beribadah pada malam lailatul qadar.
Mendapat kesempatan beribadah pada malam lailatul qadr adalah impian dan cita-cita setiap orang yang berpuasa, karena nilainya lebih dari dari seribu bulan. Karenanya banyak sekali kaum muslimin yang pada malam-malam Ramadhan terutama di sepuluh yang terakhir dari bulan ramadhan meningkatkan amal ibadahnya, untuk mendapatkan kesempatan beribadah di malam lailatul qadr.

4. Bersyukur karena mendapat hidayah untuk beribadah dalam puasa ramadhan.
Mendapat hidayah berpuasa merupakan suatu keberuntungan besar bagi orang mukmin, dimana kita lihat banya orang yang seagama dengannya, malahan tidak melaksanakan ibadah puasa tanpa ada suatu uzur atau halangan untuk tidak berpuasa. Hal ini terjadi karena sebagian orang tidak berpuasa karena hanya melihat bahwa puasa itu suatu ibadah yang sia-sia, pada dalam ibadah puasa terkandung pahala yang besar, bahkan bermanfaat bagi kesehatan yang berpuasa. Tanpa hidayah dari Allah SWT orang tidak akan mendapat manfaat dan kenikmatan dalam berpuasa, kalaupun ia berpuasa maka ia hanya memperoleh lapar dan haus semata.

5. Berpuasa akan menciptakan kepribadian yang kuat dan peka terhadap berbagai kondisi sosial disekitar dan dalam kehidupan kita.
Ibadah puasa mengajarkan tentang arti dari kehidupan, dimana dalam kehidupan ini masih banyak orang yang hidup dibawah garis kemiskinan atau kurang mampu, yang dengan kondisi ekonominya mereka sering merasakan lapar karena tidak mempunyai makanan untuk dimakan, sementara orang yang berkemampuan memiliki makanan dan minuman yang berlebih dari kebutuhannya.

Dengan melaksanakan ibadah puasa selain mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, orang yang berkemampuan akan dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang miskin dan tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan, karena orang yang mempunyai makanan yang cukup diajarkan oleh Allah SWT melalui ibadah puasa untuk tidak menyentuh atau memakan makanan tersebut sejak waktu imsak sampai dengan waktu azan magrib, padahal makanan dan minuman yang dimilikinya adalah miliknya sendiri dari usahanya yang halal.

Melalui pendidikan yang seperti itu, ibadah puasa mengajarkan kepada manusia yakni orang-orang yang beriman untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya, karena hawa nafsu yang tidak terkendali akan menjadikan manusia serakah, hubbud dunia yang berlebihan, bahkan mengantarkan manusia kepada berprilaku dhlaim dan aniaya kepada manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Dengan demikian dengan melaksanakan ibadah puasa diharapkan manusia yang beriman menjadi orang yang bertaqwa, mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya dengan menyadari bahwa semua yang kita perbuat adalah diketahuiNya meskipun manusia lain tidak mengetahui perbuatan jahat kita. Ibadah puasa juga mengajarkan manusia untuk mempunyai kepekaan sosial yang tinggi terhadap sesama terutama terhadap kalangan yang tidak mampu. Karenanya dengan berakhirnya Ramadhan dan datangnya hari kemenangan Idul Fithri dapat mengekalkan identitas kita sebagai orang yang bertaqwa dan mempunyai keperdulian sosial yang tinggi. Amin.

Ceramah Bakda Zuhur di Musholla Al Mizan PTA Medan

Transformasi Nilai-nilai Spiritual Puasa ke Dalam Jiwa Seorang Mu'min
Oleh : Drs. H. Yusuf Buchori, SH., M.Si

Bertempat di Mushola Al-Mizan Pengadilan Tinggi Agama Medan, pada tanggal 8 Juli 2015 yang bertepatan dengan Ramadhan ke-21 1436 H, Bapak Drs. H. Yusuf Buchori, SH., M.Si berkesempatan memberikan tausiyah bakda Sholat Zuhur kepada jemaah. Berikut isi tausiyah beliau:

1. Perjalanan spiritual selama menjalani ibadah puasa.
Syekh Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar menyatakan : bahwa tujuan utama dari ibadah puasa adalah mempersiapkan manusia beriman untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa kepada Nya. Bagi orang yang berpuasa ketika merasakan keadaan lapar, maka ia akan teringat kepada saudara lainnya yang tidak ada bahan makanan dirumahnya sehingga tumbulah dalam diri orang yang berpuasa itu rasa cinta kasih (ro’fah) dan sayang (rahmah) kepadanya, dan hal itu mendorong kepada dirinya untuk mau berkorban dan berinfaq. Perasaan ro’fah dan rahmah yang dimiliki Rasulullah saw, maka Allah swt memberikan penghormatan sebagai hambaNya yang mempunyai sifat sebagaimana sifat Allah yaitu “Raufu al-Rahiim” atau “Ruhamaa”. Dari sifat kasih sayang tersebut lahir “ijtima’iyyah” (kesetia kawanan sosial), “ukhuwah” (persaudaraan dan kekeluargaan), “al-musaamah” (kesamaan derajat yaitu antara si kaya dengan si miskin, antara penguasa dan rakyat, dsb).

Ibadah Puasa adalah ibadah yang teristimewa jika dibanding dengan ibadah lainnya, karena Ibadah puasa bukan “al-if’al bi al-syai’”, tetapi “al-imsak ‘an al-syai’”. Menahan makan dan minum serta hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa adalah memerlukan ketahanan fisik dan mental, karena hal itu berlawanan dengan keingian hawa nafsu manusia, sehingga dalam ibadah puasa ini terkandung pelajaran melatih kesabaran seseorang agar ia mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya, dan memiliki jiwa “muraqabah” (kedekatan) kepada Allah swt dan merasa malu untuk berbuat dosa karena Allah swt selalu mengawasinya.

Ibadah puasa ibarat orang berjalan menuju Allah swt (maqom rabbaniyyah) dan perjalanan itu dimulai dari satu maqom ke maqom lain secara bertahap (thobaq ‘an thobaq). Perjalanan tersebut dimaksudkan untuk tazkiyatun nafs (mensucikan jiwanya) yaitu menjadikan dirinya suci bersih dari segala kotoran, hati yang bersih ibarat cermin yang bisa menangkap bayang2 sosok wujud sebuah benda sehingga sosok wujud itu nampak dengan jelas, wujud itu tak akan jelas tanpa cahaya, sinar yang menerangi wujud atau yang menyinari cerminya dan kemudian memantul ke wujud sehingga wujud itu tersinari dan terlihat dalam cermin itu.

Cahaya adalah sinar hidayah Allah yang dapat ditangkap dengan jelas dalam cermin hati yang tersucikan, bila sosok hidayah itu dapat kita tangkap dengan jelas dan bermukim dihati, maka selamatlah diri kita karena akan membuahkan sifat “taqwa” yang akan beranak pinak menjadi sifat sifat yang mulia, sifat ikhlas, istiqomah, dan qanaah, maqam syukur akan terlahir dalam diri kita, sehingga diri ini berteduh dan berlabuh dalam keheninggan genggaman Illahi.

Secara sederhana dapat kita katakan bahwa perjalanan menuju Allah adalah berpindah dari sosok yang kurang sempurna menjadi pribadi yang senpurna dalam kesalehan, mengikuti sunnah Rasulullah saw yaitu perjalanan hidup beliau baik ucapan, perbuatan dan sifat batin Rosulullah saw. Target utamanya adalah hati yang sehat (qalbun salim) , yaitu hati yang menyambut segala perintah Allah swt dengan nyaman dan ikhlas dengan totalitas ketundukan dan keridlaan, sehingga menuntun jasad untuk berjalan menuju pengamalan perintah Allah swt dengan kekuatan semangat dan kesungguhan.

Dalam pandangan syeikh Sa’id Hawa r.a membicarakan perjalanan menuju Allah bukanlah perkara mudah. Ada beberap faktor yang penyebabnya antara lain; Pertama : sangat sulit membatasi dan memetakan permasalahan ini. Kedua: karena dalam menyoroti permasalahn ini manusia terpecah menjadi beberapa golongan, setiap golongan memiliki kecenderungan yang berbeda.Mereka memandang seluruh persoalan dengan kacamata masing masing. Seorang yang sedang berjalan menuju Allah sering mengalami kondisi ruhiyah yang menghanyutkan perasaannya. Merasakan kemahaesaan Tuhan hanyut merasakan nama Allah yang menjadi tempat meminta dan berteduh dari segala kebutuhan kita. Ini adalah kondisi dimana orang merasakan segala sesuatu menjadi lenyap tidak berbekas, namun perasaan itu harus dibarengi keyakinan bahwa Allah adalah pencipta semua alam termasuk dirinya sendiri.

Ada dua maqom (jenjang spiritual) yang disebutkan dalam al-Qur’an yaitu maqom shiddiqiyah dan Rabbaniyyah. Dalam pandangan Syeikh Sa’id Hawa “shidiq” menurut beberapa nash memiliki dua makna, pertama: sangat membenarkan (mempercayai) kedua ; sangat benar. Firman Allah :

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu adalah As shiddiqun (pencinta kebenaran) dan saksi-saksi (syuhada’) di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka.”

Hal yang menjadikan mereka shiddiqun adalah tasdiq (pembenaran) atas keimanan mereka. Oleh karena mereka benar dan selalu berupaya mencari yang benar, ia menjadi “shiddiqun“. Rabbaniyyah adalah shidiqiyyah plus; shiddiqiyyah didasarkan pada ma’rifah (mengenal) Allah dan ibadah kepadaNya dan rabbaniyah adalah siddiqiyyah yang disertai dengan ilmu, mengajar, nasehat, berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam kedua maqam itu ada kedalaman iman, akhlak dan perangai yang akan menjadikan pemilik kedua maqam tersebut memperoleh kedudukan yang tinggi disisi Allah. Mereka adalah “as- sabiqun” (para senior dan pelopor dalam kebaikan) dan “al-muqorrobun” ( orang yang didekatkan Allah). Allah swt berfirman :

“Dan as-sabiqun (orang orang terdahulu) itu adalah as-sabiqun. Mereka itu adalah al-muqarrabun (orang orang yang didekatkan kepada Allah).”

Selanjutnya dalam surat yang sama di ayat 88 – 91 Allah swt menyatakan bahwa orang-orang muqarrabin lah yang akan mendapatkan kemenangan baik dunia maupun akherat. Allah swt berfirman :
“Maka adapun jika ia dari golongan al muqarobin, maka baginya kelapangan, istirahat dan surga kenikmatan. Dan adapun jika ia dari ashabul yamin ( golongan kanan ),maka keselamatan bagimu dari golongan ashabul yamin.”

Jalan untuk sampai kepada Allah berkaitan dengan maqam, maqam dalam hati. As shiddiqiyah merupakan perbuatan dan hal ikhwal yang berkenaan dengan hati. Syeikh al Qusyairi r a. telah membicarakan kedudukan as-shidiqun yang berkaitan dengan perbuatan dan berkenaan dengan hati yaitu thobaq ‘an thobaq (tahap demi tahap) yaitu, taubat, mujahadah, zuhud, diam, lapar dan lainnya, merupakan tahap-tahap yang harus dilalui sebagai stasiun dalam perjalanan menuju Allah. As-shiddiiqun dan Ar-Rabbaniyun adalah pangkat mulia yang dijanjikan Allah yaitu hamba hamba Allah yang layak dekat dengan Tuhanya dan menjadi walinya, surga kautstar yang penuh telaga madu susu serta air tawar yang meneduhkan perasan hambaNya, sunyi dari hal yang mengeruhkan perasaannya. Pangkat itu hak yang bisa diraih setiap muslim yang sungnguh sungguh menuju Allah dan Allah swt akan memberikan pangkat dan kedudukan itu. Amin.

2. Istiqamah sesudah Ramadlan.
Menurut pengertian bahasa (literal), al-istiqaamah bermakna al-i’tidaal (lurus). Jika dinyatakan “istaqaama lahu al-amr”, maknanya adalah tegak lurus. Seperti halnya firman Allah swt, “Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya”. Makna “istiqamah” pada ayat ini adalah tegak lurus untuk selalu menghadap kepada Allah swt, tanpa berpaling kepada yang lain. Istiqaamah juga bermakna al-istiwaa` (lurus dan setimbang). Makna semacam ini bisa dijumpai di dalam surat al-Fushilat, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah, kemudian beristiqamah..” Makna istiqamah di dalam ayat ini adalah melaksanakan ketaatan dan berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw.” Menurut al-Aswad bin Malik, ayat ini bermakna, “Janganlah kamu menyekutukan Allah swt dengan apapun”. Sedangkan Qatadah mengartikan istiqamah pada ayat itu dengan “teguh” untuk selalu mentaati Allah swt.

Ada pula yang menafsirkan “istiqamah” dalam surat al-Fushshilat ayat 30 dengan, “beriman kepada Allah dan tidak pernah mengotori keimanannya dengan kedzaliman”. Ada pula yang mengartikan dengan, “tidak berbuat dosa dan tidak mencemari imannya dengan kesalahan”. Sedangkan menurut Imam Qurthubiy, istiqamah adalah tegak lurus atau konsisten untuk selalu mentaati Allah swt, baik dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan, kemudian tetap dalam kondisi semacam itu secara terus-menerus”.

Di dalam Tafsir al-Baidlawiy, Imam Baidlawiy, menyitir riwayat dari Khulafaur Rasyidin, menyatakan, “Istiqamah adalah al-tsabat (teguh) dalam iman, ikhlash dalam amal dan menunaikan seluruh kewajiban.”

Pada dasarnya, Allah swt telah mewajibkan Rasulullah saw dan kaum Mukmin untuk selalu istiqamah di jalan Allah swt. Di dalam sebuah ayat, Allah swt berfirman;

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

Tatkala Allah swt memerintahkan beragam perintah, mulai dari tauhid, kenabian, dan sebagainya, Allah swt memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk beristiqamah (teguh dan konsisten) atas apa yang telah diperintahkan kepadanya. Perintah istiqamah di sini mencakup perkara-perkara ‘aqidah dan syariat (amal). Tugas ini tentunya sangatlah berat. Wajar saja Rasullah saw pernah bersabda, “Rambutku beruban karena surat Huud” .

Imam Qurthubiy menjelaskan; ayat ini merupakan perintah kepada Nabi saw dan kepada umatnya untuk istiqamah. Menurut Ibnu ‘Abbas, tak ada ayat yang diturunkan kepada Nabi saw yang lebih berat dan sulit dibandingkan surat Huud ayat 112. Oleh karena itu, tatkala beliau saw ditanya para shahabat, “Sungguh, anda cepat sekali beruban”. Rasulullah saw menjawab,”Aku beruban karena surat Huud dan suadara-saudaranya”.

Di dalam kitab Fath al-Qadir, Imam Syaukani menuturkan, “Fastaqim kamaa umirta, maknanya adalah beristiqamahlah seperti yang telah diperintahkan kepadamu, yakni semua hal yang diperintahkan Allah swt. Jadi perintah istiqamah di sini mencakup semua hal yang diperintahkan dan dilarang Allah.”

Perintah untuk istiqamah di atas jalan Allah juga disitir di dalam sunnah. Dari Abu ‘Amr diriwayatkan bahwasanya ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang ada di dalam Islam, yang tak seorangpun bisa mengatakannya kecuali diri Anda. Rasulullah saw menjawab, “Katakanlah saya beriman kepada Allah, lalu teguhlah kamu dalam pendirianmu itu”.[HR. Imam Muslim]

Dari Abu Hurairah ra diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Biasa-biasa sajalah kamu sekalian di dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan berpegang teguhlah kamu sekalian terhadap apa yang kalian yakini. Ketahuilah, tak ada seorangpun diantara kalian yang selamat karena amalnya. Para shahabat bertanya, “Tidak juga Anda, Ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya”.[HR. Imam Muslim]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa istiqamah di jalan Allah; yakni selalu konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya adalah kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, tanpa ada pengecualian.

3. Keutamaan Istiqamah di Jalan Allah
Orang yang istiqamah di jalan Allah, niscaya akan mendapatkan banyak keutamaan. Allah swt telah menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas di dalam al-Quran. Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang keutamaan istiqamah adalah ayat berikut ini;
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, Kemudian mereka tetap istiqamah. Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

Ayat-ayat di atas menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwasanya orang yang istiqamah di jalan Allah akan memperoleh banyak keutamaan, Diantara keutamaan-keutamaan tersebut adalah:

Pertama, Allah akan menurunkan malaikat kepada orang-orang yang beriman dan beristiqamah di jalan Allah. Malaikat tersebut menghibur dengan ucapan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Ibnu Zaid dan Mujahid menyatakan; malaikat akan diturunkan kepada orang tersebut menjelang kematiannya. Muqatil dan Qatadah berpendapat; malaikat akan diturunkan saat ia dibangkitkan dari kubur. Sedangkan menurut Ibnu ‘Abbas, ini adalah kabar gembira dari malaikat untuk mereka kelak di akherat. Ibnu Zaid dan al-Waqi’ menyatakan, kabar gembira tersebut akan disampaikan di tiga tempat; pertama, menjelang kematiannya; kedua, ketika berada di dalam kubur, dan ketiga, saat dibangkitkan dari kubur.

Kedua, malaikat akan menjadi penolong (wali) orang yang istiqamah di kehidupan dunia dan akherat. Menurut Mujahid, malaikat akan menjadi kroni orang-orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan kelak di akherat, malaikat itu tidak akan berpisah dengan orang tersebut hingga ia masuk ke dalam surganya Allah. Al-Sudiy menyatakan, malaikat akan menjadi penjaga amal orang yang istiqamah di kehidupan dunia, dan penolong di hari akhir.

Di ayat lain, al-Quran juga menyatakan dengan sangat jelas, orang yang beristiqamah di jalan Allah akan mendapatkan anugerah harta dan keberkahan yang melimpah ruah. Allah swt berfirman;

“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak)”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwasanya makna ayat ini adalah; jika mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan kenikmatan. Dituturkan juga dari ‘Abdu bin Hamid dan Ibnu Mundzir dari Mujahid; makna ayat ini adalah, seandainya saja mereka konsisten untuk mentaati Allah dan semua yang diperintahkan Allah kepada mereka, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang sangat banyak, hingga mereka menjadi kaya raya. ‘Abdu bin Hamid dan Ibnu Mundzir juga menuturkan sebuah riwayat dari Mujahid, bahwasanya makna ayat di atas adalah; seandainya mereka konsisten dan teguh di atas jalan Islam, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang melimpah ruah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, bahwasanya makna surat Jin ayat 16 adalah, seandainya mereka istiqamah di jalan Allah, niscaya Allah akan memberi mereka harta yang banyak. Penafsiran serupa juga diketengahkan oleh Sa’id bin Jabir , al-A’masy, al-Minhal. Sedangkan menurut Qatadah, maknanya adalah, seandainya mereka beriman, niscaya Allah akan meluaskan rejeki mereka di dunia.

Ali al-Shabuniy menjelaskan firman Allah di atas (surat Jin : 16) sebagai berikut, “Seandainya orang-orang kafir itu beriman, dan istiqamah di atas syariat Islam, niscaya Allah akan meluaskan rejeki mereka, dan melapangkan urusan dunianya. “Ma-an ghadzaqon” merupakan tamsil dari rejeki yang banyak. Al-Thariiqah adalah thariqah Islam (jalan Islam) dan taat kepada Allah. Dengan demikian maknanya adalah, seandainya mereka istiqamah di atas jalan itu, niscaya Allah akan melapangkan rejeki mereka, seperti firmanNya, “Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, sungguh akan Kami bukakan bagi mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi..”

Inilah keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan orang-orang yang istiqamah di jalan Allah swt.

Setelah selesai menjalani ibadah puasa, kita orang-orang yang beriman agar supaya tetap istiqamah menjaga keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Adapun kiat untuk menjaga keistiqamahan diri dapat diringkas sebagai berikut;

Pertama, mengembangkan ‘aqliyyah Islaamiyyah (system berfikir yang Islamiy). Caranya adalah dengan menambah dan memperbanyak ilmu dan tsaqafah Islam, agar seseorang semakin memahami halal dan haram. Untuk itu, hendaknya kita banyak menghadiri majelis ilmu dan memiliki motivasi yang kuat untuk terlibat aktif di dalamnya. Cara berikutnya adalah dengan banyak dan rajin membaca buku pemikiran Islam baik yang menyangkut masalah aqidah maupun syariat (fiqh); dan lain sebagainya.

Kedua, mengembangkan nafsiyyah (system kejiwaan). Kiatnya, memupuk ketaatan kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh perintahNya dengan penuh keikhlasan. Mendekatkan diri kepada Allah swt dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah (membaca al-Quran, sholat Dluha, Thahajjud, dan sebagainya). Melatih kecenderungan kita ke arah yang baik (taqwa), serta menjauhkan diri kita dari kecenderungan yang buruk.

Semoga Allah swt tetap memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita, amin.

Ingin Punya Aura Positif
Oleh : Drs. H. Busra, SH. MH


Pada hari kedua puluh puasa Ramadhan 1436 H, Tushiah Ramadhan disampaikan oleh Hakim Tinggi PTA Medan Bapak Drs. H. Busra, SH. MH. Dalam taushiah Ramadhan itu Drs. H. Busra, SH. MH mengambil judul Ingin PUNYA AURA POSITIF.

Aura adalah medan energi yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Ada juga yang beranggapan bahwa Aura pancaran cahaya wajah atau pancaran cahaya yang keluar dari tubuh anda. Aura ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan anda sehari hari. Pernahkah anda melihat orang yang raut wajahnya berbinar energi sehingga manarik siapa saja lawan bicaranya.

Sementara sarjana ahli sinar tubuh, W.E Butler, mendefinisikan aura sebagai inti sari tak tampak. Willem Hogendoorn, mendifinisikan sebagai bentuk sinar yang mengelilingi tubuh manusia. Ahli terapi warna, Erwin, berpendapat sebagai sinar kehidupan yang melingkupi tubuh manusia.

Dari defenisi-defenisi diatas maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa Aura adalah suatu medan magnet elektromagnetik yang mengelilingi seluruh tubuh mahluk hidup. Dalam kisah-kisah Orang Suci atau para Nabi sering digambarkan seperti lingkaran HALO di sekitar kepala. AURA setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. Ada yang berwarnah Merah, Hijau, Biru, atau Ungu. Setiap Vibrasi warna AURA memiliki ARTI yang berbeda.
Al-Qur’an tentang aura positif, Surat Al-Fath ayat 29.


Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Selanjutnya firman Allah pada surat Al-Ghasyiyyah ayat 1-16:

 

Artinya :

  1. Sudah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan?
  2. Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,
  3. Bekerja keras lagi kepayahan,
  4. Memasuki api yang sangat panas (neraka),
  5. Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.
  6. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,
  7. Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.
  8. Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
  9. Merasa senang karena usahanya,
  10. Dalam syurga yang tinggi,
  11. Tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna.
  12. Di dalamnya ada mata air yang mengalir.
  13. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,
  14. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),
  15. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,
  16. Dan permadani-permadani yang terhampar.

Seorang teman yang akan segera pensiun ditanya oleh temannya apa rahasia agar punya aura positif. Beberapa rahasianya diungkapkannya dalam beberapa hal :
1. Berfikirlah positif (Positive Thinking).
Al Hujurat ayat 12 :


Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Hadis Qudsi menebutkan : “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi wa ana ma’ahu iza zakarani. Fain zakarani fi nafsihi , zakartuhu fi nafsi, wain zakarani fi mala’in zakartuhu fi mala’in khayrin minhum. Wain taqarruba ilaiya shibran, taqarrabtu ilayhi zira’an, wa in taqarruba ilaiya zira’an, taqarrabtu ilaihi ba’a, wa in athani yamsyiy, ataytuhu harwalatan. (Aku sesuai dengan perkiraan hamba-Ku tentangKu. Dan Aku bersamanya apabia ia mengingatku. Maka jika ia mengingatku dalam dirinya, maka aku mengingat dirinya dalam diriku. Apabila ia mengingatku dalam sekumpulan jama’ah manusia, maka Akupun akan mengingatnya dalam sekumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila ia mendekatiku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila ia mendekatiu sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa…Dan apabila ia mendekati dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. ). Jadi, apa yang dilakukan Allah kepada seorang hamba sesuai dengan dugaannya kepadaNya.

Ada doa yang bagus dan baik kita amalkan :
““Allahummaj’al awwalayawmina hadza shalahan wa awsathahu najahan wa akhirahufalahan (Ya Allah, jadikanlah awal hari kami ini kebaikan, pertengahannya keberuntungan, dan akhirnya kebahagiaan).”

Empat cara berfikir positif :
a. Sugesti positif.
b. Sapu bersih keluhan, ganti dengan bersyukur.
c. Lakukan visualisasi.
d. Lakukan hal yang menyenangkan.
2. Berusahalah memiliki perasaan bahagia dalam setiap situasi.
3. Membiasakan hidup rileks.
4. Bersenam atau berjalan santai di alam terbuka.
5. Banyak mengkonsumsi makanan sehat.


وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِيَ أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ


Artinya : Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
6. Rajin beribadah, berzikir dan berdo’a.
7. Cukup istirahat.

Demikian taushiah ini disampaikan kiranya bermanfaat buat saya dan pembaca sekalian. (ahz)

Ceramah Bakda Zuhur Ramadhan di Musalla PTA Medan

Keutamaan Shodakah dan Balasan Orang yang Bakhil

Oleh: Drs. H. Syazili Mathir, SH, MH

PTA Medan , Kamis, 02-07-2015

Ceramah Ramadhan 1436 H  ba'da sholat Zuhur pada hari Kamis  2 Juli 2015 berlangsung di Musholla Al Mizan PTA Medan bertindak selaku pencermah Drs. H.M Syazili Mathir,MH Hakim  Pengadilan Tinggi Agama Medan dan Moderator/Pembawa Acara  Burhanuddin Harahap, SH.,MH 

Acara dihadiri Ketua PTA Medan Drs. H.Moh.Thahir, SH.,MH, para Hakim Tinggi Pejabat Struktural Fungsiaonal.

Dalam ceramahnya Drs.H.M Syazili Mathir, MH. menguraikan tentang keutamaan orang yang selalu bershodakah teutama dilakukan di bulan ramadhan yang pahalanya berlipat ganda dan balasan orang yang pelit atau bakhil di akahirat nanti.

Sebagai contoh dan perumpamaan orang yang bekgil. beliau menguraikan dalil dalam alquran surat Al Imran ayat 180

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ÇÊÑÉÈ

Artinya: sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat lain Allah berfirman ( At Taubah- 34-35).

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ اْلأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ÇÌÎÈ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ ÇÌÍÈ

Artinya: 34. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,

35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."

Kemudian di ceritakan oleh HM Syazili Mathir, Dalam suatu kisah diriwayatkan bahwa pada suatu subuh, ketika nabi Muhammad SAW sedang duduk-duduk di masjid bersama beberapa sahabat selepas sholat, tiba-tiba masuk seorang Muslimah sambil menagis dan berkata : “Ya Rasulullah, obatilah tanganku yang lumpuh ini”  Sejak kapan tanganmu lumpuh ?. Tanya Rasul. “ Baru sejak bangun tidur tadi pagi Ya Rasulullah” Kemudian perempuan (Muslimah) itu bercerita Tadi malam dia bermimpi hari kiamat telah tiba, dan kepadanya diperlihatkan neraka dan surga. Ketika melihat neraka, dia terkejut melihat ibunya sedang disiksa didalamnya. Di tangan ibunya tergenggam segumpal lemak dan selembar kain. Dengan kedua benda itu ibunya mencoba menangkis sengatan api neraka . Perempuan itu bertanya kepada ibunya ; “Ibu mengapa masuk neraka, sedangkan ibu selalu menegakkan sholat dan ketika ibu wafat ayah selaku suami ibu telah rela kepada ibu.?” Ibunya menjawab : “ Anakku, aku masuk neraka bukan karena meninggalkan sholat atau durhaka pada suami, tetapi aku masuk neraka karena aku bakhil “. Apa yang ditangan Ibu ? Tanya perempuan itu. “ Anakku inilah barang yang pernah aku sedekahkan dulu. Seandainya sedekahku dulu banyak tettu aku akan dapat menangkis jilatan api neraka ini. “ Dimana Ayah ?” Tanya perempuan itu pula . “ Ayahmu orang yang dermawan, dia ada di dalam sorga jawab ibunya.

Kemuadia aku pergi ke sorga menemui ayahku “ kata perempuan itu melanjutkan ceritanya ‘ Di Sorga aku lihat ayahku sedang membag-bagi air dari telagamu Ya Rasulullah . Lalu aku bertanya kepada Ayahku : “ Ayah Ibu di neraka sangat membutuhkan air ini, mengapa ayah tidak memberikan kepadanya ?.  Ayahku waktu itu menjawab : “ Anakku, air ini khusus untuk mereka yang dermawan, Ibumu orang yang bakhil karena itu dia tidak berhak memperoleh air dari telaga Rasul “.

Maka diam-diam akau ambil air itu satu gayung untuk aku berikan kepada Ibuku. Tiba-tiba di tengah jalan terdengar suara yang berkata : “Hai perempuan yang mengambil air telaga Rasul tanpa hak, lumpuhlah tangannu” Mendengar suara itu aku terkejut dan terbangun dari tidurku, Ya Rasulullah. Tetapi anehnya tanganku benar-benar menjadi lumpuh. Oleh karena itu, setelah sholat subuh , Saya menghadap kemari karena yakin hannya dengan perantaraanmu tanganku dapat sembuh kembali “

Mendengan kisah perempuan tesebut, Nabi Muhammad SAW besabda : “ Mimpimu adalah RUKYAH SODIQOH, mimpi yang benar” Kemudian dengan tongkatnya Nabi menyentuh tanga perempuan yang lumpuih itu dan mendoakannya sehingga tangan itu sembuh kembali.

Demikian cerita orang yang dermawan dan bakhil yang disampaikan penceramah di musalla Al Mizan PTA Medan Kamis 2 Juli 2015. (hba)

             

Ceramah Ramadhan 1436H PTA Medan : 10 Jenis Buah Yang Dikonsumsi Saat Ramadhan

Oleh: Drs. H. Syamsuddin Harahap, SH, MH

PTA Medan , Senin 29-06-2015
Ceramah Ramadhan 1436 H ba'da sholat Zuhur pada hari Senin 29 Juni 2015 berlangsung di Musholla Al Mizan PTA Medan yang rutin dilaksanakan stiap hari Senin s/d Kamis selama bulan Ramadhan 1436 H, dan pada hari itu bertindak selaku pencermah Drs. H Syamsuddin Harahap .SH.,Hakim Pengadilan Tinggi Agama Medan dan Moderator/Pembawa Acara H.Baharuddin Ahmad, SH.,MH Ketua BKM Almizan PTA Medan.

Acara dihadiri Ketua PTA Medan Drs. H.Moh.Thahir, SH.,MH, Wakil Ketua PTA Medan Dr.Hj.Djazimah Muqoddas, SH., M.Hum para Hakim Tinggi Pejabat Struktural Fungsiaonal, Ketua PA Stabat Drs. H.Syaifuddin, SH.M.Hum serta Karyawan Karyawati PTA Medan.

Dalam ceramahnya Drs.H.Syamsuddin Harahap,SH.menguraikan tentang contoh orang yang yang berbauat baik dan berbuat buruk dalam kehidupan di dunia dan menguraikan tentang arti dan makna 10 buah yang sanagat bermanfaat dikonsemsi selama bulan Ramadhan.

Sepuluh buah dimaksud adalah 1 Anggur yang maknanya menurut H Syamsuddin adalah Ayo gemar bersyukur. 2. Salak yaitu selalu baik dalam bertindak, 3.Stroberi yaitu selalu Instrospeksi diri dan belajar rendah hati. 4 Jeruk yang bermakna Jangan berbuat buruk, 5. Pisang yaitu Pantang Iri, Sambong dan Angkuh, 6.Markisa yaitu Mari kita sabar 7. Melon maknanya Menolong orang lain 8. Mentimun yaitu menuntut ilmu dan tidak banyak melamun yang maksudnya selalu belajar dan mengaji/tadarrus alquran. 9 . Talas yang bermakna tidak ada kata malas, dan 10. Tomat yang bermakna Tobat sebelum terlambat atau kiamat.

  • 806_armen.jpg
  • 807_miharza.jpg