Indeks Artikel
Kadar dan kualitas keimanan Abu Bakar dan shahabat-shahabat Nabi tentunya berbeda dengan keimanan orang-orang sesudahnya. Alqur'an pun dalam meredaksikan orang-orang yang beriman adakalanya menggunakan kata Alladzina Amanu dan terkadang menggunakankata al-Mu'minun. Ada perbedaan makna antara kedua kata tersebut. Kata Alladziina Aamanuu mengandung arti seluruh orang yang beriman baik yang kuat imannya, yang sedang imannya maupun yang lemah keimanannya. Sedangkan kata al-Mu'minun mengandung arti orang mu'min yang memiliki kualitas keimanan yang sempurna.
Mudah-mudahan kita diberi kekuatan iman dan Islam oleh Allah sehingga termasuk orang yang memiliki kualitas keimanan yang baik, namun tentunya untuk meraih dan mewujudkan hal itu perlu ada upaya sungguh-sungguh (mujahadah) dan keinginan kuat (iradah) yang diwujudkan dengan semangat menggebu (himmat 'adzimah) untuk mendalami, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama Islam itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
1. A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap, Pustaka Progressif, Surabaya,2002,cet.25
2. Hasyiyah Jami’ al-Shahih, Maktabah Darul Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt.3. Aam Amirudin, Tafsir kontemporer, Khazanah Intelektual, Bandung, 2006,Jilid I.
4. Fathul Majid, dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.
5. Itsbatushifat al-‘Uluwwi, dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.
6. Al-Ghazali, Bidayat al-Hidayat, Pustaka al-'Alawiyyah, Semarang, tt
7. al-Durr al-Mantsur,dalam Programal-Maktabah al-Syamilah.
8. Sunan Ahmad bin Hambal, dalam Program Maktabah al-Syamilah.
9. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973, cet.7
الحمد لله الذي قد تم هذا التأليف بعون الله واعانته علي يد الفقير ايرلان نوفل
القاضي للمحكمة الشرعية سديكلنج
________________________________
[1] Artikel ini dibuat untuk disampaikan Penulis pada Bintal Rutin Mingguan Pengadilan Agama Sidikalang tanggal 20 Januari 2010, pada Khutbah Jum’at di Mesjid Jami’ Bintang Mersada Sidikalang-Dairi Sumatera Utara tanggal 19 Februari 2010 dan Khutbah Jum'at di Mesjid al-Muhajirin Perumnas Simbara Permai Sidikalang Dairi-Sumatera Utara 26 Maret 2010
[2] Penulis menyelesaikan Pendidikan SI pada Fakultas Syari'ah Jurusan al-Akhwal al-Syahsiyyah IAIC Cipasung Tasikmalaya pada tahun 2000. sedangkan Pendidikan S2 selesai pada tahun 2006 dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Studi Konsentrasi Hadits dan pernah mondok di Pesantren Sukahideng Tasikmalaya dari tahun 1992-2000. Pertama berkarir sebagai Calon Hakim pada Pengadilan Agama Kelas 1-A Subang, Jawa Barat dari tahun 2006-2009 dan sejak Agustus 2009 bertugas sebagai Hakim Pratama Muda pada Pengadilan Agama Kelas 2 B Sidikalang, Medan Sumatera Utara.
[3] A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap, Pustaka Progressif, Surabaya,2002, cet.25,hal. 41
[4] Yang dimaksud ma'rifat dalam artikel ini adalah ma'rifat menurut bahasa yang artinya mengetahui dan mengenal (A.W. Munawwir, ibid. hal. 919) , bukan ma'rifat dalam ilmu tashawwuf yang merupakan salah satu maqam atau hal sebagaimana yang dicetuskan oleh Dzunnun al-Misri. (Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973, cet.7, hal.76)
[5] Hasyiyah Jami’ al-Shahih, Maktabah Darul Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt, hal.12 yang bunyinya: وايمان الشخص علي قدرمعرفته بالله artinya:”dan keimanan seseorang itu sesuai dengan kadar/ukuran ma’rifatnya kepada Allah”.
[6] تصديق بالقلب واقرار باللسان وأفعال بالأركان
[7] Amal adalah perbuatan yang dilakukan dengan segenap kesadaran dan penuh pertimbangan.
[8] Aam Amirudin, Tafsir kontemporer, Khazanah Intelektual, Bandung, 2006,Jilid 1, hal.143. dalam buku tersebut, Ustadz Aam Amirudin hanya menyebutkan dua karakter/sifat iman yaitu abstrak dan fluktuatif. Sedangkan sifat iman yang ketiga adalah pendapat penulis sendiri berdasarkan dalil-dalil berikut:
خيركم قرني ثم اللذين يلونهم ثم الذين يلونهم (Sebaik-baik kamu adalah generasiku, kemudian generasi sesudahku, lalu generasi sesudahnya)
[9] وفي الحديث : إذا رأيتم الرجل يعتادالي المسجد فاشهدوا له بالإيمان Fathul Majid, Juz I, hal.333 dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.
[10] Itsbatushifat al-‘Uluwwi, Juz. 1hal. 122 dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.
[11] انما سمي القلب قلبا لتقلبه al-Durr al-Mantsur,Juz. I, hal. 155 dalam Programal-Maktabah al-Syamilah.
[12] Dalam kitab Bidayat al-Hidayat, Imam al-Ghazali memuat do'a sebagai berikut: اللهم انا نسألك ايمانا خالصا دائما يباشر قلوبنا ويقينا صادقا حتي نعلم انه لن يصيبنا الا ما كتبته علينا (Ya Allah sesungguhnya kami memohon/meminta kepada-Mu iman yang murni yang terus menerus menyinari hati-hati kami dan keyakinan yang benar sehingga kami meyakini bahwasanya tidak akan menimpa kepada kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan hal itu buat kami). Al-Ghazali, Bidayat al-Hidayat, Pustaka al-'Alawiyyah, Semarang, tt, hal. 23
[13]جددوا ايمانكم قيل يا رسول الله وكيف نجدد إيماننا قال أكثروا من قول لا إله إلا الله Sunan Ahmad bin Hambal, Juz II, hal. 359, Hadits nomor 8695 dalam Program Maktabah al-Syamilah.