
MEDAN, 6 Januari 2026 | Cuaca cerah, di bawah cahaya lampu aula lantai tiga Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Medan, Selasa (6/1) pagi, sebuah ikrar dilantunkan dengan suara bulat dan serempak. Bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan, melainkan janji moral yang mengikat nurani dan profesionalisme seluruh aparatur peradilan. Penandatanganan Pakta Integritas dan Komitmen Bersama itu menjadi penanda awal tahun kerja yang diletakkan di atas pondasi kejujuran, tanggung jawab, dan kesetiaan pada nilai-nilai keadilan.
Acara berlangsung khidmat dan tertib, dipimpin langsung oleh Ketua PTA Medan, Dr. Insyafli, M.H.I. Hadir mendampingi, Wakil Ketua PTA Medan Dr. H. Darmansyah Hasibuan, S.H., M.H., Panitera Heri Eka Siswanta, S.H., M.H., serta Sekretaris H. Hilman Lubis, S.H., M.H. Kehadiran para pimpinan itu memberi makna simbolik bahwa integritas bukan hanya tuntutan administratif, melainkan teladan yang harus dimulai dari pucuk kepemimpinan.
Kegiatan dimulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Hymne Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan Mars PTA Medan, yang dinyanyikan secara serempak oleh seluruh peserta dengan penuh semangat nasionalisme dan kebanggaan terhadap lembaga peradilan agama.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Jasman, sebagai ungkapan rasa syukur dan harapan agar kegiatan ini berjalan lancar serta memberikan keberkahan dalam pelaksanaan tugas di tahun yang baru.

Selanjutnya, Ketua PTA Medan, Dr. Insyafli, M.H.I., menyampaikan sambutan yang berisi ajakan kepada seluruh aparatur untuk meneguhkan komitmen dalam menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah sebagai abdi negara di lembaga peradilan.
Ada tiga pesan penting yang disampaikan ketua PTA Medan.
“Pertama, pakta itu bermakna janji, dalam bahasa Arab disebut “aqdun/al ‘aqdu, maka kita memaknai sebagai kewajiban hukumnya menunaikan janji, kalau melanggar maka akan terkena di dunia dan akhirat, sebisa mungkin kita tidak menerima suap, melakukan korupsi, tidak menerima pungli dan melakukan tugas sebaik-baiknya,” tegas Dr. Insyafli, MHI dalam arahannya.
Kedua, wajib adanya role model. Secara sederhana, role model adalah seseorang yang perilaku, sikap, nilai, dan tindakannya dijadikan contoh oleh orang lain. Ia menjadi rujukan karena dianggap mencerminkan karakter positif, profesionalisme, dan integritas yang patut ditiru. Jika ia seorang pemimpin, maka harus memiliki karakter, akhlak yang bisa ditiru anak buahnya.
“Kewajiban bagi yang mempunyai anak buah/bawahan menjadi role model,” sambung pak ketua.
Ketiga, ketua PTA Medan juga mewajibkan agar aparatur saling mengingatkan satu sama lain untuk mawas diri dan tidak melakukan perbuatan tercela sesuai pakta integritas yang diucapkan.
“Ibarat menyetir mobil mepet-mepet ke pinggir diingatkan, teman, atasan kita, sekarang ada istilah whistleblower system, jangan langsung ke siwas terlebih dahulu harus mengingatkan, mari kita menyadari bahwa pekerjaan ini (red.pakta integritas) serius bukan seremonial, bahwa akan dipertanggungjawabkan kelak bahkan sampai alam akhirat,” urai Dr. Insyafli, MHI.

Whistle blower (lebih tepat: whistleblower) adalah orang yang mengungkapkan pelanggaran, kecurangan, atau perbuatan tidak etis yang terjadi di dalam suatu organisasi kepada pihak berwenang atau publik, demi kepentingan hukum dan kepentingan umum. Whistleblower juga dapat dimaknai sebagai pelapor dari dalam—seseorang yang mengetahui adanya penyimpangan, lalu berani melaporkannya meskipun berisiko secara pribadi.
Usai sambutan, suasana semakin bersemangat dengan pembacaan yel-yel Mahkamah Agung yang dipimpin oleh Sekretaris PTA Medan, Hilman Lubis, S.H., M.H., dan diikuti oleh seluruh peserta dengan penuh antusias.
Kegiatan berlanjut dengan pembacaan Pakta Integritas Hakim, yang dikomandoi langsung oleh Ketua PTA Medan dan diikuti oleh seluruh Hakim Tinggi. Dengan sikap tegap dan suara yang mantap, Ketua PTA Medan memimpin pengucapan pakta integritas yang diikuti oleh seluruh hakim tinggi PTA Medan. Setiap kalimat ikrar menggema di ruang aula, seolah menjadi saksi bisu komitmen para penegak keadilan untuk menjaga marwah lembaga, menjauhkan diri dari praktik tercela, serta menegakkan hukum dengan adil dan berimbang. Pada momen itu, integritas tidak lagi menjadi konsep abstrak, melainkan janji personal yang diikrarkan di hadapan institusi dan sesama.

Sementara itu, Sekretaris PTA Medan memimpin pengucapan pakta integritas bagi seluruh aparatur nonhakim. Barisan panitera, panitera muda, panitera pengganti, pejabat struktural, pejabat fungsional tertentu, para pelaksana, hingga PPPK dan CPNS, mengikuti ikrar dengan penuh kesadaran. Mereka adalah denyut nadi administrasi peradilan, yang memastikan setiap proses berjalan tertib, transparan, dan akuntabel. Ikrar bersama itu menegaskan bahwa integritas adalah tanggung jawab kolektif, tanpa sekat jabatan dan fungsi.
Seluruh ASN PTA Medan kemudian melakukan penandatanganan Pakta Integritas secara serentak, sebagai bentuk nyata komitmen pribadi dan kelembagaan untuk bekerja dengan jujur, transparan, serta berorientasi pada pelayanan publik yang berkualitas.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan Komitmen Bersama yang dilakukan secara bergiliran oleh seluruh ASN PTA Medan. Penandatanganan diawali oleh Pimpinan Satuan Kerja, diikuti oleh Para Hakim Tinggi, Pejabat Struktural, Pejabat Kepaniteraan, Pejabat Fungsional, Para Pelaksana/Staff, dan diakhiri oleh pegawai PPPK.
Proses ini menjadi simbol kesatuan tekad seluruh aparatur dalam menjaga integritas, loyalitas, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan fungsi peradilan agama secara profesional dan berkeadilan.

Penandatanganan pakta integritas ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan pernyataan sikap institusional PTA Medan dalam menjaga kepercayaan publik. Di tengah tantangan zaman dan sorotan masyarakat terhadap lembaga peradilan, komitmen bersama ini menjadi pengingat bahwa keadilan hanya dapat ditegakkan oleh insan-insan yang bersih hati dan lurus niatnya.
“Mahkamah Agung: “Unggul!” Badilag: ”Excellent!” PTA Medan:”Jaya!” WBBM:”Bisa, yes, yes, yes, horas!!!” pimpin H. Hilman Lubis, SH, MH diikuti yang hadir.
Ketika acara ditutup, suasana aula kembali hening. Namun, gema ikrar yang baru saja diucapkan seolah masih bergelayut di udara—menjadi pengikat moral bagi seluruh keluarga besar Pengadilan Tinggi Agama Medan untuk melangkah dalam satu barisan, mengabdi pada hukum, dan setia pada integritas sepanjang tahun yang berjalan. (am/redaksi)

MEDAN - 23 Desember 2025 | Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Medan menggelar rapat evaluasi kinerja sepanjang tahun 2025 pada Selasa (23/12) pagi, kegiatan yang berlangsung di aula kantor PTA Medan tersebut menjadi momentum refleksi institusional sekaligus penajaman strategi dalam menghadapi tantangan kinerja pada tahun 2026 mendatang.
Rapat evaluasi dipimpin oleh Ketua PTA Medan Dr. Insyafli, M.H.I, turut mendampingi beliau Wakil Ketua Dr. H. Darmansyah Hasibuan, SH, MH, Sekretaris H.Hilman Lubis, SH, MH, Panitera Heri Eka Siswanta, SH, MH dan dihadiri para hakim tinggi, jajaran kepaniteraan, serta seluruh kepala bagian dan kepala subbagian dan para ASN di lingkungan PTA Medan. Agenda utama difokuskan pada pemaparan dan pendalaman laporan kinerja masing-masing unit kerja, baik dari unsur administrasi, teknis yudisial, hingga pelayanan publik.
Dalam forum tersebut, setiap kepala bagian dan kepala subbagian mempresentasikan capaian program selama 2025, termasuk realisasi anggaran, pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, serta hambatan yang dihadapi di lapangan. Evaluasi juga mencakup kinerja kepaniteraan dan para hakim tinggi, terutama terkait penyelesaian perkara, kualitas putusan, serta konsistensi penerapan asas peradilan yang sederhana, cepat, dan berbiaya ringan.

“Penyerapan anggaran tidak dapat 100% disebabkan dampak efesiensi dari pemerintah, bukan hanya kita yang berdampak, tapi seluruh institusi negara, akibat dari kebijakan pemerintah itu pada anggaran kita tidak terserap penuh,” tegas H. Hilman Lubis, SH, MH mengakomodir seluruh permasalahan di bagian kesekretariatan.
Lebih lanjut sekretaris menegaskan, DIPA 01 terserap sekitar 97,99% dan DIPA 04 terserap sekitar 89,02 % dari keseluruhan anggaran. Menurut sekretaris, fokus pada belanja modal semua sudah selesai kecuali pengadaan tanah untuk kantor PTA Medan yang baru, terkendala pada faktor sertifikat tanah yang memang harus disegerakan.
“Harus ada sertifikat tanah agar bisa tindak lanjut, kita masih berkoordinasi sama pihak notaris/PPAT,” ujar H. Hilman Lubis, SH, MH.
Di bidang kepaniteraan, fokus utama pada penyelesaian 10 perkara yang masih dalam tahap pembacaan putusan dan pemeriksaan awal (formil).
“Ada perkara 10 untuk persidangan tanggal 23 Desember sampai 24, ini masih berjalan ya sehingga belum bisa disebut ada sisa,” kata Panitera Heri Eka Siswanta, SH, MH mengklarifikasi laporan dari panitera muda banding dan panitera muda hukum.
Menurut panitera, tren perkara masuk di tahun 2025 ini paling banyak, jika dibandingkan empat tahun terakhir.
“Jumlah perkara masuk tahun 2025 sebanyak 175 perkara, tahun 2024 sebanyak 127 perkara, tahun 2023 sebanyak 133 perkara, tahun 2022 sebanyak 152 perkara, tahun 2021 sebanyak 162 perkara, artinya tren perkara terbanyak tahun ini (red.tahun 2025),” papar Heri Eka Siswanta.
Menambahkan laporan panitera, wakil ketua PTA Medan memberikan benang merah perkara ekonomi syariah yang paling signifikan sepanjang tahun 2025 ini.
“Perkara ekonomi syariah agak banyak masuk di tahun 2025 ini, majelis saya yang ditunjuk memeriksa dan menyidangkan,” ujar Dr. H. Darmansyah Hasibuan, SH, MH tegas.
Selain menyampaikan perkembangan penyelesaian perkara, wakil ketua juga menyebutkan pengawasan pada triwulan IV sudah selesai, termasuk pelaksanaan aplikasi dari badilag yang semuanya hijau, terutama pada tingkat PTA Medan.
Lalu bagaimana dengan pengaduan dan baberjakat?
“Pengaduan tidak ada masalah dan baberjakat menunggu hasilnya,” ungkap pak wakil.
Ketua PTA Medan menekankan pentingnya evaluasi sebagai sarana pembelajaran organisasi, bukan semata-mata penilaian administratif. Setiap temuan dan catatan kritis diharapkan menjadi dasar perbaikan berkelanjutan, khususnya dalam peningkatan profesionalisme aparatur peradilan agama dan optimalisasi pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan.

“Perkara masuk 175 itu artinya masyarakat semakin percaya kepada lembaga pengadilan agama, itu dari segi positif harus dilihat,” tegas Dr. Insyafli, MHI menyikapi perkembangan perkara yang disampaikan bidang kepaniteraan.
Ketua menyikapi juga laporan para hakim tinggi dalam menyelesaikan perkara, sebagian majelis ada yang telah menyelesaikan perkaranya dan sisanya masih dalam proses persidangan. Ketua PTA Medan masih berharap sampai akhir tahun penyelesaian perkara terus dikejar namun tanpa dipaksakan.
“Sebisa mungkin diselesaikan sampai akhir tahun, kalaupun ada perkara masuk tetap diregister itu wajib, akan jadi masalah jika tidak diregister, tapi kalau belum putus itu tugas kita (red.majelis hakim) menyelesaikannya,” tegas Dr. Insyafli, MHI.
Menatap tahun 2026, rapat juga membahas rencana kerja dan langkah strategis ke depan. Fokus diarahkan pada penguatan tata kelola peradilan yang transparan dan akuntabel, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung efektivitas kerja dan layanan peradilan berbasis digital.
“Selama 2 bulan saya di sini agak banyak pengaduan, perlu berdialog dengan advokat dalam rangka memberikan mereka pengertian tentang peraturan baru yang berjalan di kita (red.pengadilan agama), atau semacam sosialisasi aturan baru, ini pernah saya lakukan di tempat sebelumnya dan hasilnya efektif sehingga menekan banyaknya pengaduan, ke depan perlu direncanakan agar lebih jelas,” papar ketua.
Melalui evaluasi menyeluruh ini, PTA Medan berkomitmen menjaga konsistensi kinerja lembaga peradilan yang berintegritas, adaptif terhadap perubahan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Hasil rapat diharapkan menjadi pijakan kokoh dalam mewujudkan peradilan agama yang modern, profesional, dan terpercaya pada tahun 2026. (am/redaksi)

Jakarta – Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Medan, Dr. Insyafli, M.H.I., memimpin jalannya Rapat Pleno III dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) IKAHI XXI yang diselenggarakan di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Rapat pleno ini merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pengambilan keputusan strategis organisasi Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI).
Sebagai pimpinan rapat, Ketua PTA Medan memimpin jalannya sidang dengan tertib, sistematis, dan demokratis, sehingga seluruh peserta Munas dapat mengikuti rangkaian pembahasan dengan baik. Rapat Pleno III menjadi forum penegasan hasil-hasil Munas, termasuk penetapan hasil pemungutan suara tingkat pusat.

Berdasarkan hasil pemungutan suara yang dilakukan secara elektronik dan transparan, diperoleh hasil sebagai berikut:
- Yanto memperoleh 119 suara (60%)
- Prim Haryadi memperoleh 79 suara (40%)
- Abstain sebanyak 0 suara (0%)
Dengan perolehan suara terbanyak, Yanto ditetapkan sebagai pemenang hasil pemungutan suara Munas IKAHI Pusat. Proses pemilihan berlangsung secara terbuka dan akuntabel, mencerminkan komitmen IKAHI dalam menjunjung tinggi prinsip demokrasi organisasi.
Kepercayaan yang diberikan kepada Ketua PTA Medan untuk memimpin Rapat Pleno III menunjukkan peran aktif dan kontribusi nyata pimpinan peradilan agama dalam mendukung penguatan organisasi profesi hakim. Munas IKAHI XXI menjadi wadah strategis untuk menyatukan visi, memperkuat soliditas, serta merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan.

Kegiatan Munas IKAHI XXI secara keseluruhan berlangsung lancar dan kondusif, serta diharapkan mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang berdampak positif bagi kemajuan IKAHI dan dunia peradilan di Indonesia.

MEDAN, SELASA 9 DESEMBER 2025 | Kota Medan diguyur hujan sejak sore, tepat pukul 21.00 WIB hujan tambah deras mengantarkan keberangkatan rombongan PTA Medan menuju Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Perjalanan rombongan PTA Medan dipimpin pak ketua Dr. Insyafli, MHI, ibu ketua Dharmayukti Karini PTA Medan Dra. Biva Yusmiarti, MA (Hakim Tinggi PTA Medan), sekretaris H. Hilman Lubis, SH, MH, Panitera Heri Eka Siswanta, SH, MH dan tim lainnya.
Pasca dua pekan terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga, berita yang terdengar ketua PTA Medan simpang siur, alhasil pak ketua memutuskan untuk turun langsung di lapangan. Perjalanan ini menjadi salah satu misi kemanusiaan yang penuh ketegangan dan drama. Meninggalkan Jalan Kapten Soemarsono, cuaca lembab dan langit yang tampak berat seolah memberi isyarat bahwa perjalanan ini bukan perjalanan biasa.
Konvoi kendaraan mulai bergerak perlahan, melintasi jalan toll Tebing Tinggi Medan lanjut toll Indrapura Kisaran menuju Kota Rantauprapat. Pada dini hari, rombongan memasuki kawasan Padang Lawas Utara. Suasana semakin mencekam: kabut tebal, hujan rintik, serta beberapa titik genangan air mulai tampak. Namun kondisi tersebut masih jauh dari gambaran sesungguhnya yang mereka temui begitu mendekati Kota Padangsidimpuan.

TAPANULI TENGAH, RABU 10 DESEMBER 2025. Meninggalkan Kota Padangsidimpuan, tanda-tanda kerusakan akibat cuaca ekstrem dua pekan terakhir mulai terlihat. Pepohonan tumbang di beberapa sisi jalan, sementara sejumlah warga terlihat membersihkan material lumpur dari halaman rumah mereka. Rombongan PTA Medan terus melanjutkan perjalanan, menjalankan mandat untuk meninjau langsung lokasi terdampak sekaligus memastikan layanan pengadilan agama di wilayah tersebut tetap berjalan, meski dalam suasana krisis.
Ketika kendaraan memasuki wilayah Tapanuli Tengah, situasi berubah drastis. Jalanan yang biasanya mulus kini terputus di beberapa titik. Aliran sungai yang meluap telah menggerus badan jalan, menyisakan celah lebar yang hanya bisa dilalui secara bergantian oleh kendaraan ringan. Petugas BPBD, TNI, POLRI, dan relawan tampak berjibaku mengatur arus lalu lintas darurat, sementara alat berat bekerja tanpa henti menyingkirkan longsoran.
Lumpur tebal—setebal mata kaki hingga lutut—menutupi aspal di beberapa segmen jalan, membuat rombongan harus melambat bahkan sempat berhenti. Beberapa kali kendaraan harus diarahkan ke jalur alternatif sempit yang hanya cukup untuk satu mobil. Pemandangan tenda-tenda pengungsian mulai muncul di kiri dan kanan jalan: ratusan warga berkumpul, sebagian besar anak-anak dan lansia, menunggu bantuan dengan wajah letih.
Bala bantuan dari berbagai daerah tampak berdatangan silih berganti. Truk logistik, ambulans, dan kendaraan relawan hilir mudik tanpa henti sejak dini hari. Suasana di lapangan menggambarkan betapa besar dampak banjir bandang dan tanah longsor yang telah terjadi selama dua pekan berturut-turut. Beberapa bangunan terlihat rusak, jembatan darurat dibangun di atas aliran sungai, dan material batu-batuan berserakan di badan jalan, menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana.

PANDAN, PUKUL 11.16 WIB. Saat rombongan akhirnya memasuki Kota Pandan, udara terasa lebih lembab dan aroma lumpur begitu pekat. Di daerah inilah dampak bencana tampak sangat parah. Tim PTA Medan berhenti sejenak untuk menyapa aparatur PA Pandan dan menerima laporan langsung dari sana. Banyak aparatur yang kehilangan harta benda, kerusakan rumah, kendaraan dan sebagian lagi masih terjebak di wilayah sulit dijangkau.
Perjalanan berlanjut menuju Kota Sibolga, melalui jalur yang tak biasanya dengan pemandangan lumpur di sana sini yang juga terkena dampak longsoran. Di beberapa titik, rombongan harus turun dari kendaraan untuk memastikan jalur aman dilalui. Meski melelahkan, misi kemanusiaan ini dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Kunjungan ini bukan hanya bentuk kepedulian institusi peradilan agama, tetapi juga momentum solidaritas bagi masyarakat yang sedang diuji oleh bencana alam. Melihat langsung kondisi lapangan diharapkan membantu perencanaan dukungan lanjutan, khususnya pemulihan layanan administrasi dan bantuan hukum bagi warga yang terdampak.

SIBOLGA, KAMIS 11 DESEMBER 2025. Setelah menuntaskan peninjauan lapangan di Pandan dan Sibolga, rombongan Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Medan memutuskan untuk kembali ke Medan melalui jalur utara, melewati Barus dan daerah perbukitan Siburu-buru yang terkenal ekstrem. Keputusan ini diambil karena sejumlah ruas jalan utama yang dilewati saat berangkat masih terputus dan belum dapat dilalui dengan aman.
Perjalanan pulang dimulai pada Kamis pagi usai mengunyah sarapan dan mengisap beberapa batang rokok (bagi perokok) dengan kondisi yang tidak kalah dramatis dibanding rute keberangkatan. Memasuki wilayah Barus, rombongan menghadapi tantangan besar: tanah lumpur yang retak menggantung rendah, mengurangi jarak pandang hanya beberapa meter. Lampu sorot kendaraan harus bekerja keras menembus jarak pandang ke depan, sementara suara deru mesin mobil terdengar jelas, menambah ketegangan suasana.
Ketika kendaraan mulai memasuki kawasan Siburu-buru di Tapanuli Tengah, medan perjalanan berubah tajam. Jalur menanjak dan menurun curam dengan tikungan-tikungan sempit di bibir jurang menuntut kehati-hatian penuh. Tanah longsor kecil yang tersisa di beberapa titik membuat lajur jalan menyempit, memaksa rombongan untuk melintas satu per satu. Getaran tanah dan serpihan batu yang sesekali jatuh dari tebing membuat suasana semakin dramatis.
Hujan kembali turun deras ketika rombongan melewati lembah-lembah Siburu-buru. Air mengalir dari sela bebatuan, sementara kabut kembali menebal. Beberapa kali rombongan terpaksa berhenti untuk memastikan jalur tidak tertutup material longsor susulan. Meski fisik mulai lelah setelah perjalanan panjang sejak hari sebelumnya, semangat tim tidak surut. Tekad untuk kembali ke Medan dengan selamat menjadi dorongan utama.

DOLOK SANGGUL, PUKUL 13.57 WIB. Setelah melewati medan ekstrem itu, rombongan tiba di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan. Jalan mulai membaik, meski sesekali genangan air dan kerikil berserakan masih menghiasi rute. Ketika kendaraan memasuki Kota Dolok Sanggul, suasana mulai terasa lebih tenang. Sejumlah anggota rombongan turun sejenak untuk beristirahat dan memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari Dolok Sanggul, perjalanan berlanjut ke Siborongborong. Udara dingin pegunungan menyambut kedatangan rombongan, namun kondisi jalan relatif lebih stabil. Menjelang siang, rombongan singgah di Pengadilan Agama (PA) Balige untuk bersilaturahmi dan bercerita singkat mengenai kondisi Tapanuli Tengah–Sibolga yang baru saja ditinjau. Pertemuan berlangsung singkat tetapi penuh makna, sebagai bentuk koordinasi dan kepedulian antarlembaga peradilan agama.
Setelah dari Balige, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pematangsiantar. Jalur menuju kota itu cukup padat karena aktivitas masyarakat mulai normal kembali setelah beberapa hari diguyur hujan. Rombongan kembali singgah di PA Pematangsiantar untuk berkoordinasi serta melepas lelah setelah menempuh rute panjang melewati pegunungan dan lembah.
Menjelang sore, perjalanan terakhir menuju Kota Medan pun dimulai. Rute Siantar–Medan via toll Sinaksak Medan yang sering dilalui terasa berbeda kali ini karena kelelahan panjang mulai terasa. Meski demikian, seluruh anggota rombongan tetap menjaga fokus, saling berbagi semangat, dan memastikan keselamatan sebagai prioritas utama.
MEDAN, KAMIS MALAM. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan ribuan tikungan, puluhan tanjakan, serta melewati jalur rawan bencana dan cuaca ekstrem, rombongan Pengadilan Tinggi Agama Medan tiba kembali di Kota Medan pada Kamis malam, 11 Desember 2025 pukul 20.46 WIB. Kedatangan ini disambut rasa syukur mendalam, mengingat perjalanan pulang tidak kalah menegangkan dibanding perjalanan menuju lokasi bencana.
Misi kemanusiaan yang kami jalankan menjadi saksi solidaritas dan pengabdian lembaga peradilan agama bagi masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Perjalanan ini tidak hanya membawa laporan kondisi lapangan, tetapi juga membawa pelajaran tentang ketahanan, kepedulian, dan kekuatan untuk tetap bergerak di tengah situasi paling sulit sekalipun. (alm/redaksi)

SIBOLGA, 10 Desember 2025 | Usai melihat kondisi PA Pandan, Ketua PTA Medan Dr. Insyafli, MHI didampingi istri Dra. Biva Yusmiarti, MA (Hakim Tinggi PTA Medan), sekretaris H. Hilman Lubis, SH, MH, Panitera Heri Eka Siswanta, SH, MH dan beberapa apratur PTA Medan bertolak menuju PA Sibolga, saat itu waktu menunjukkan pukul 14.34 WIB.
Udara bercampur debu-debu bekas banjir dan tanah longsor, kondisi hujan gerimis terus mengguyur kota Sibolga hingga kedatangan rombongan PTA Medan. Wajah-wajah aparatur di sana datar, tenang, namun ada kecemasan yang dibalut senyum bermakna.
Sesekali mereka melirik air laut dan memandang langit, seolah ada harapan mereka agar hujan berhenti dan matahari menampakkan sinarnya.
Wajar saja, suasana seperti itu mereka rasakan sejak dua pekan bencana banjir dan tanah longsor hadir di kota mereka, meskipun bala bantuan bertahap-tahap masuk, namun kondisi psikologis tidak sepenuhnya mudah terobati.
“Sabar, ini musibah kita semua,” kata Ketua PTA Medan saat menyapa mereka satu persatu, disusul sekretaris dan panitera.
Kecemasan tadi mulai pudar Ketika rombongan PTA Medan tiba, duduk bersama dalam satu tempat dan berbagi cerita tentang banjir dan tanah longsor.

Dalam laporannya, ketua PA Sibolga Dr. Muhammad Azhar Hasibuan, SHI, MA menyampaikan kronologi terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.
“Seperti yang kita lihat, kantor PA Sibolga masih aman, tapi rumah dinas menyedihkan, persis seperti yang kita tinjau tadi (setelah dari PA Pandan), kami bersemangat pak KPTA dan rombongan datang,” tegasnya.
Setali tiga uang, ketua PTA Medan juga menyampaikan hal yang sama seperti yang disampaikan di PA Pandan, antara lain sikap empati sesama warga PA, kepedulian dan mau berbagi rasa dan harta.
Selanjutnya, Dr. Insyafli, MHI menuturkan, saat musibah datang manusia mempunyai persepsi bahwa lebih takut kepada kondisi musibah itu daripada kepada Allah SWT.

“Saat hujan deras, kita takut kalua-kalau banjir dan tanah longsor sehingga membuat kita tak berdaya dan tak yakin kita mempunyai iman,” papar ketua.
Kepercayaan tersebut menurutnya, seringkali diyakini dalam konteks kelilmuan disebut hukum kausalitas. Apa itu hukum kausalitas?
Hukum kausalitas adalah prinsip dasar yang menyatakan bahwa setiap peristiwa (akibat) memiliki sebab yang mendahuluinya, sebuah hubungan sebab-akibat yang mutlak dan menjadi landasan ilmu pengetahuan dan hukum, terutama dalam hukum pidana untuk menentukan pertanggungjawaban atas suatu tindak pidana. Ini adalah konsep bahwa satu kejadian berkontribusi pada kejadian lain, di mana sebab bertanggung jawab atas akibat, dan menjadi asumsi fundamental dalam metode ilmiah untuk menguji hipotesis.
Sedikit berteori dan sulit dipahami masyarakat awam, namun hukum sebab akibat seringkali dirasakan dalam kehidupan kita, ada sebab pasti ada akibat, saat turun hujan deras sebagai sebab pasti berakibat banjir dan tanah longsor sehingga kejadian itu diyakini, dipercaya dan menjadi persepsi hingga ketakutan (trauma panjang).

Alhasil menurut ketua PTA Medan, keyakinan akan hadirnya Allah SWT seringkali lupa dan dilupakan. “Akibatnya kita lupa ada Tuhan, Allah SWT yang menciptakan, melindungi, bahkan hukum Allah itu lebih dahsyat lagi kalau kita yakinim,” tegasnya.
Lebih jauh pak Ketua PTA memberikan ilustrasi, saat dulu Nabi Yusuf dijebloskan dalam sumur oleh saudara-saudaranya selama 40 hari 40 malam tanpa busana, hukum Allah berlaku di sana hingga Nabi Yusuf selamat dan menjadi penguasa (red. Nabi).
“Kita ingat Nabi Nuh yang membuat kapal besar, ada bencana banjir bandang dan Nuh bersama pengikutnya selamat, oleh karena Nabi Nuh percaya hukum Allah dengan melihat hukum kausalitas, yaitu ada hujan pasti ada banjir dan ada antisipasi yaitu kapal besar,” paparnya.
Ilustrasi itu sedikit demi sedikit dapat diterima aparatur PA Sibolga yang terkena dampak banjir dan tanah longsor, mereka yakin dibalik musibah selalu ada rahasia dan hikmah Allah SWT.

Jam menunjukkan pukul 16.08 WIB, ketua PTA Medan dan rombongan menyalurkan bantuan kepada aparatur PA Sibolga yang terdampak banjir dan tanah longsor.
“Ada beberapa bantuan yang kami sampaikan, antara lain bantuan dari PP IKAHI, bantuan dari MA peduli, bantuan dari Dharmayukti Karini PTA Medan, bantuan dari IPASPI dan PPHIM, semuanya akan kami salurkan kepada PA Pandan dan PA Sibolga secara langsung,“ jelas ketua PTA saat memberikan bantuan uang tunai kepada masing-masing aparatur PA Pandan yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor.
"Ini bentuk empati dan kami peduli, mudah-mudahan dapat membantu meringankan kesulitan akibat bencana,” imbuhnya.

Di akhir acara penyerahan bantuan di PA Sibolga, ketua PTA Medan berharap, bencana seperti ini tidak terulang lagi dan warga PA Sibolga memahami eksistensi musibah dan hikmah Allah SWT. (alm)